Dari New Delhi ke Aceh: Blueprint untuk Kemajuan

Image
“Masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.” — Mahatma Gandhi Dalam bahasa Aceh, pepatah yang sejalan berbunyi, “Han bek lagee ka kheun meutuwah, bek tapeusijeut sabee na udep.” Artinya, jangan hanya mengandalkan kemuliaan masa lalu, tetapi teruslah bekerja keras demi masa depan yang lebih baik. Aceh, provinsi di ujung barat Indonesia dengan kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa, memiliki potensi besar untuk berkembang lebih pesat. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,3 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 57.956 km², Aceh memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan posisi strategis. Sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan menjadi tulang punggung perekonomian, sementara sumber daya alam seperti minyak, gas bumi, dan hasil hutan menjadi aset berharga. Namun, tantangan seperti tingginya biaya hidup, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan, dan layanan kesehatan yang belum merata masih menghantui. Di sisi lain, New Delhi, ibu kota India, menawarkan contoh...

Mahasiswa UNSAM Desain Alat Deteksi Makanan Haram dan Halal

LANGSA - Mahasiswa Program Studi (Prodi) Fisika Universitas Samudra (Unsam) memenangkan hibah dari Kemenristek Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). PKM Bidang Karya Cipta mahasiswa ini berhasil merancang alat yang dapat mengidentifikasi makanan halal dan haram.

Koordinator Prodi Fisika Rahmawati MS menjelaskan bahwa kreatifitas mahasiswa wajib dihargai maka diajaukan Hak Paten terhadap rancangan tersebut. Rancang bangun E-Nose sistem jaringan syaraf tiruan untuk identifikasi makanan halal-haram berbasis Arduino Nano, dan telah mendapat Hak Paten dari Kementrian Hukum dan HAM RI dengan Nomor EC00201942363 tanggal 14 juni 2019, ditandatangani a/n Menteri Hukum dan HAM Direktur Jendral Kekakayaan Intelektual dr. Freddy Harris, SH LLM ACCS.

Sementara para pembuat alat tersebut terdiri dari Muammar Khadafi selaku ketua, serta 2 anggota Saparudin dan Hijrahanisa dengan dosen pembimbing, Rachmad Almi Putra M Sc.

Muammar Khadafi, Senin (1/7) mengatakan alat dengan sistem e-Nose ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dapat mendeteksi makanan berupa halal atau haram, membedakan lemak babi, sapi dan ayam.

Disebutkan, alat ini bekerja lebih cepat untuk membedakan jenis makanan halal dan haram dengan persentase hasil identifikasi makanan sangat akurat, dan mudah untuk dioperasikan oleh masyarakat. “Alat ini juga sebagai solusi untuk menghindari makanan yang haram bagi umat Muslim di Indonesia,” ujar mahasiswa teknik ini.

Menurutya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tentu makanan yang dikonsumsi hanya produk makanan halal. Namun, katanya, sejumlah produk makanan diduga tidak halal masih banyak tersebar di kalangan masyarakat.

Dia mengatakan terutama produk makanan berbahan dasar daging (Hafiz, Mohamed, & Ab, 2014). Dalam beberapa tahun terakhir teknologi berupa Electronic Nose (E-Nose) menjadi perhatian khusus bagi para peneliti dalam mengidentifikasi produk makanan, katanya.

Dia mencontohkan, salah satunya yaitu Backpropagation (Pharmayeni & Zulhamidi, 2017) Anggara (2017) melakukan sebuah penelitian mengenai deteksi daging sapi menggunakan E-Nose berbasis Bidirectional Associative Memory (BAM).
Berdasarkan penelitian di atas itulah, mahaaiswa Teknik Prodi Fisika Unsam ini tertarik melakukan sebuah penelitian baru mengenai “Rancang Bangun E-Nose Sistem Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation Untuk Identifikasi Halal Haram Berbasis Arduino Nano”.
Di mana dalam penelitian ini akan digunakan sensor gas tipe MQ yang meliputi MQ-135, MQ-2, MQ-3, MQ-4, MQ-5 dan MQ-6. Dalam penelitian ini diharapkan sistem E-Nose berjalan dengan baik dan data yang hasilkan memiliki tingkat akurasi yang tinggi, tandasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Bersiaplah Para Wajib Pajak, Tahun Depan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Akan Memasuki Era Otomatisasi

QRIS Jadi Andalan Digitalisasi Indonesia, Tapi Mengapa Dipermasalahkan Amerika?

Dari New Delhi ke Aceh: Blueprint untuk Kemajuan