Dari New Delhi ke Aceh: Blueprint untuk Kemajuan

Image
“Masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.” — Mahatma Gandhi Dalam bahasa Aceh, pepatah yang sejalan berbunyi, “Han bek lagee ka kheun meutuwah, bek tapeusijeut sabee na udep.” Artinya, jangan hanya mengandalkan kemuliaan masa lalu, tetapi teruslah bekerja keras demi masa depan yang lebih baik. Aceh, provinsi di ujung barat Indonesia dengan kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa, memiliki potensi besar untuk berkembang lebih pesat. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,3 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 57.956 km², Aceh memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan posisi strategis. Sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan menjadi tulang punggung perekonomian, sementara sumber daya alam seperti minyak, gas bumi, dan hasil hutan menjadi aset berharga. Namun, tantangan seperti tingginya biaya hidup, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan, dan layanan kesehatan yang belum merata masih menghantui. Di sisi lain, New Delhi, ibu kota India, menawarkan contoh...

Peserta dari Aceh dan Sumut Ramaikan Pawai Budaya Festival Rentak Melayu II Tahun 2019 di Langsa


LANGSA, 13 Juli 2019 - Ratusan peserta dari Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Sabtu (13/7/2019) sore ikuti pawai budaya (festival budaya) menjelang pembukaan Festival Rentak Melayu II pada malam, di Lapangan Merdeka Langsa.

Kepala Disporapar Langsa Drs Syafrizal mengatakan, pawai budaya diikuti 8 grup peserta dari sejumlah kabupaten/kota Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, dengan menampilkan berbagai jenis pakaian adat dan budaya asal masing-masing berkonten melayu.

Selain itu mereka juga akan menampilkan tarian juga dari asal masing-masing daerahnya.

Kemudian pawai budaya atau festiva budaya ini juga diikuti puluhan peserta yang terdaftar pada Langsa Fashion Fantastic Festival.

Para peserta festival budaya ini akan dilepas dari Jalan Supratman dimulai atau persisya di sekitar SMP Muhammadyah Langsa, dan selanjutnya bergerak ke Jalan Cut Nyak Dhien lalu masuk ke Pendopo Wali Kota Langsa.

Di Pendopo mereka telah ditunggu oleh Wali Kota Langsa, Tgk Usman Abdullah SE, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Aceh, Darmansyah, dan pejabat Fokopimda serta Kepala SKPK Kota Langsa.

Satu per satu para peserta diberi waktu menampilkan tarian adat masing-masing daerah mereka yang berkonten melayu, di hadapan Forkopimda persisnya di halaman Pendopo Wali Kota Langsa.


Selanjutnya peserta kembali bergerak keluar Pendopo menuju Jalan persimpangan depan BRI, berbelok ke kanan tembus ke persimpangan Pos Kupi, dan kembali berbelok ke Jalan A Yani berjalan lurus hingga finish ke Tribun Lapangan Merdeka Langsa.

Pawai budaya menampilkan berbagai pakaian adat dan tarian berkonten Melayu tersebut, disaksikan masyarakat daerah setempat maupun kabupaten tetangga yang telah menununggu sebagiannya di Jalan A Yani dan Lapangan Merdeka Langsa.

Kemudian pada malamnya, Wali Kota Langsa, Tgk Usman Abdullah bersama Kadispora Aceh, Darmansyah, dan disaksikan Forkopimda akan membuka secara resmi Festival Rentak Melayu II tahun 2019 di Lapangan Merdeka Langsa.

Kadis Kebudayaan dan Parawisata Aceh dalam laporan dan sambutannya yang mengatakan bahwa festival rentak melayu raya merupakan inisiatif penggiat seni budaya Kota Langsa yang ditindak lanjuti pemarintah Aceh, melalui dinas kebudayaan dan pariwisata dengan mengagendakan kegiatan tersebut, “ungkapnya.


Festival rentak melayu raya merupakan kegiatan yang kedua kalinya di Aceh dengan tujuan melestarikan nilai-nilai seni budaya melayu, Suku melayu adalah sebuah kelompok etnis dan orang-orang Austonesia. Sejarah nama "melayu" berasal dari kerajaan malaysia yang pernah ada di kawasan sungai batang hari. Dalam event ini memperkenalkan beberapa lokasi potensial sebagai daerah yang memiliki pesona alam di Kota Langsa, “pungkasnya.

Walikota Langsa Usman Abdullah, SE dalam sambutannya mengatakan bahwa Kota Langsa dahulunya adalah ibu kota dari Kabupaten Aceh Timur yang terbentuk dari 3 perkauman yang dominan, yaitu Aceh, Gayo dan Melayu Jejak perkauman melayu tersebut hingga kini masih adanya daerah pemukiman warga yang bernama Gampong Melayu yang berada di kecamatan Langsa Kota dan sejarah terbentuknya Langsa yaitu atas perintah Raja Aceh kepada salah satu putra melayu minang yang bernama Datok Malela untuk membuka wilayah baru di pantai timur Aceh yang kemudian kita.

Comments

Popular posts from this blog

Bersiaplah Para Wajib Pajak, Tahun Depan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Akan Memasuki Era Otomatisasi

QRIS Jadi Andalan Digitalisasi Indonesia, Tapi Mengapa Dipermasalahkan Amerika?

Dari New Delhi ke Aceh: Blueprint untuk Kemajuan