Blog yang memberikan informasi / berita terkini (Viral) tentang dunia Perpajakan di Indonesia, Berbagi Tips Kesehatan, Berita dan Review Dunia Sepakbola, Tips Dunia Otomotif, Sinopsis Film Terbaru, serta Lagu Terbaru. Selain itu, saya juga akan berbagi tentang segala sesuatu yang menarik di hidup saya. Jangan ragu untuk tinggalkan komentar atau saran, supaya saya bisa tetap terus berkarya lebih baik lagi. Selamat membaca dan Enjoyyy
“Masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.” — Mahatma Gandhi Dalam bahasa Aceh, pepatah yang sejalan berbunyi, “Han bek lagee ka kheun meutuwah, bek tapeusijeut sabee na udep.” Artinya, jangan hanya mengandalkan kemuliaan masa lalu, tetapi teruslah bekerja keras demi masa depan yang lebih baik. Aceh, provinsi di ujung barat Indonesia dengan kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa, memiliki potensi besar untuk berkembang lebih pesat. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,3 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 57.956 km², Aceh memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan posisi strategis. Sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan menjadi tulang punggung perekonomian, sementara sumber daya alam seperti minyak, gas bumi, dan hasil hutan menjadi aset berharga. Namun, tantangan seperti tingginya biaya hidup, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan, dan layanan kesehatan yang belum merata masih menghantui. Di sisi lain, New Delhi, ibu kota India, menawarkan contoh...
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Sebelum Ke Bioskop, Baca Dulu Reviewnya MIB : International
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Ada sebuah masa di mana Will Smith belum memerankan Jin kekar dari Disney, dan Tommy Lee Jones belum terlalu tua. Pada masa tersebut sebuah komik karangan Lowell Cunningham diadaptasi secara bebas oleh Ed Solomon, sehingga melahirkan waralaba MIB yang kita kenal sekarang ini. Film tentang para agen rahasia yang mengurusi imigrasi para alien ke Bumi ini pun segera menciptakan fan base besar. Kesuksesan Men In Black pada 1997 memicu dibuatnya Men In Black II (2002) dan Men In Black III (2012).
Setelah beristirahat selama tujuh tahun lamanya, waralaba ini kembali ke layar lebar melalui tangan kreatif F. Gary Grey, sang sutradara, The Italian Job, dan The Fate of the Furious. Absen selama tujuh tahun lamanya membuat waralaba ini membutuhkan berbagai peremajaan. Tak lagi menampilkan duo Agen J (Will Smith) dan Agen K (Tommy Lee Jones), seri terbaru ini mencoba memperkenalkan dua wajah baru yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi para penikmat film. Mereka adalah Chris Hemsworth dan Tessa Thompson, yang sebelumnya sukses memerankan Thor dan Valkyrie di Thor: Ragnarok.
Men in Black Ricuh
Film Men in Black: International dibuka dengan adegan penyerangan agen H (Chris Hemsworth) dan agen High T (Liam Neeson) yang berasal dari MIB cabang UK. Keduanya menyerang menara Eiffel yang merupakan lokasi alat transportasi berupa worm hole untuk para alien. Worm hole tersebut telah ditumpangi sesosok alien berbahaya yang dinamai The Hive. Alien tersebut hendak menyerang Bumi dan berbagai planet lainnya. Dalam pertempuran tersebut agen H dan High T berhasil menumpas The Hive, sehingga Bumi aman sekali lagi.
Pada sisi lainnya Molly Wright kecil menemukan alien yang mendarat darurat di rumahnya. Kejadian ini mengubah Molly untuk selamanya, dirinya menjadi sangat terobsesi dengan alien dan berusaha mencari tahu organisasi aneh yang berpakaian serba hitam tersebut. Obsesi ini sukses membawa Molly ke markas rahasia MIB.
Agen O (Emma Thompson) yang terkesan dengan kemampuan Molly akhirnya memilih untuk mempekerjakan Molly. Sejak saat itu Molly kehilangan identitasnya dan harus hidup sebagai agen MIB dengan kode agen M.
Film ini awalnya terlalu sibuk membangun cerita tentang Agen M. Sayang, ini tidak dibarengi dengan lebih detilnya konflik antara para alien atau alien dengan manusia yang terjadi di sini. Kisah tentang pertempuran antara Agen H dan Agen High T dengan Hive pun kurang ‘nendang’ dan sepertinya hanya selintas lalu. Tidak dijelaskan dengan detil bagaimana H bisa berubah setelah peristiwa pertempuran tersebut. Penjelasan yang terjadi di bagian belakang film pun terlalu dangkal.
Chemistry kuat antara Chris dan Tessa yang sudah tercipta sejak Thor: Ragnarok tak bisa membuat film ini jadi lebih menarik. Pelannya pembangunan cerita menjadikan film ini terasa datar dan biasa saja. Padahal, jika dinaikkan sedikit saja levelnya, chemistry yang terbangun di MIB ini berpotensi menjadikan film ini lebih menarik dan tidak datar.
Di sisi lain, penggunaan senjata dengan teknologi canggih di film ini memang lumayan menghibur. Namun, aksinya tidak semenarik film-film MIB sebelumnya. Di film ini, konflik benar-benar terfokus pada agen MIB dengan alien. Sudah jarang terlihat mereka menggunakan neutralizer meski alat ini disebut berulang-ulang.
Format Lama dengan Gaya Baru
Sebagai sekuel, MIB: International kembali menyajikan unsur-unsur yang membuat kita menikmati franchise Men in Black. Unsur komedi yang disertai dengan teknologi yang sangat ‘kartun’, dilengkapi dengan plot twist yang mudah ditebak namun masih enjoyable.
Selain faktor tersebut, kita juga bernostalgia dengan kehadiran Agent O yang kembali diperankan oleh Emma Thompson (juga pernah diperankan Alice Eve di versi mudanya). Keterlibatan Agent O dalam script film ini, serta setting tahun film menegaskan bahwa film ini melanjutkan storyline dari kisah yang dialami oleh Agent J (Will Smith).
Sementara itu kami harus mengacungi jempol pada Rafe Spall yang menjadi agen C pada film ini. Walaupun mendapatkan durasi yang tidak banyak, aktingnya yang sangat meyakinkan membuat kami gemas sendiri sepanjang film. Lalu bagaimana dengan akting Liam Neeson? Well, sang Jedi, dewa, dan assassin ini memerankan agen High T dengan sangat baik. Memang tidak ada yang menonjol pada kualitas akting Liam, tapi rasanya sulit menerima sosok petinggi MIB UK diperankan orang lain.
Kesimpulan
Sayangnya, film terbaik sekali pun memiliki kekurangan, dan MIB: International memiliki permasalahan yang sama seperti pendahulunya, yaitu villain atau karakter penjahat utama. Alien Twin terasa sangat 2-dimensional. CGI di beberapa scenes juga terasa kurang matang digarap. Beberapa plothole juga akan anda temukan jika tidak melewatkan satu scene pun.
Bagi kami Men in Black: International adalah film super fun yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Memang banyak sekali elemen yang disederhanakan di sini sehingga rasanya sangat asing bagi penikmat MIB lama. Tapi bagi kami perubahan tersebut sangat perlu mengingat banyak penonton baru yang menyaksikan film ini. Terlepas dari itu, MIB: International merupakan tipikal summer movie yang sangat enjoyable. Casual moviegoers akan banyak tertawa, dan fans Men in Black akan banyak mendapatkan fan service. Sedikit bocoran bahwa tidak ada credit scene seperti film kekinian, sehingga anda dapat segera beranjak dari kursi tanpa kuatir melewatkan teaser tertentu.
Men In Black: International sudah bisa Anda saksikan di bioskop kesayangan Anda. Selamat menyaksikan dan Enjoyyy!!!
JAKARTA, 11 Juni 2019 – Reformasi pajak yang kembali digaungkan menekankan pada pembenahan sistem informasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Era otomatisasi siap diimplementasikan mulai tahun depan, hal ini sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-12/PJ/2019 tanggal 23 Mei 2019 tentang Pengelolaan Informasi Keuangan Secara Otomatis. Direktur Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi DJP Iwan Djuniardi mengatakan pembenahan proses bisnis terus dilakukan. Migrasi sistem manual ke digitalisasi mulai dilakukan untuk beberapa proses bisnis, terutama yang berhubungan dengan pelayanan kepada wajib pajak. “Kita sudah berbenah, misal dengan e-service . Kita masuk ke digitalisasi. Jadi, semua yang manual kita digitalkan dan nanti kita akan keluarkan bukti potong digital. Pembenahan juga untuk host to host dengan BUMN." Iwan menerangkan perubahan proses bisnis ke era digital tidak hanya pada tataran pelayanan. Fungsi internal untuk memas...
Oleh Ulphi Suhendra Banda Aceh — Sejak diresmikan melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 21/18/PADG/2019, sistem pembayaran berbasis kode QR standar nasional, QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), menjadi fondasi penting dalam percepatan digitalisasi ekonomi Indonesia. Namun, langkah progresif ini kini mendapat sorotan dari Amerika Serikat yang menyebut QRIS sebagai hambatan perdagangan digital global. (Baca juga tulisan saya yang dimuat Harian Rakyat Aceh: "QRIS, Kedaulatan Digital, dan Teguran Amerika" ) Laporan tahunan 2025 National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers (NTE Report) yang diterbitkan oleh USTR (United States Trade Representative) secara eksplisit mencantumkan kebijakan QRIS—terutama pada aspek pemrosesan lokal transaksi lintas batas dan lokalisasi data—sebagai bentuk pembatasan akses bagi penyedia layanan asing, seperti Visa, Mastercard, maupun platform teknologi keuangan asal Amerika. Dari Warung ke Kota...
“Masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.” — Mahatma Gandhi Dalam bahasa Aceh, pepatah yang sejalan berbunyi, “Han bek lagee ka kheun meutuwah, bek tapeusijeut sabee na udep.” Artinya, jangan hanya mengandalkan kemuliaan masa lalu, tetapi teruslah bekerja keras demi masa depan yang lebih baik. Aceh, provinsi di ujung barat Indonesia dengan kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa, memiliki potensi besar untuk berkembang lebih pesat. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,3 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 57.956 km², Aceh memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan posisi strategis. Sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan menjadi tulang punggung perekonomian, sementara sumber daya alam seperti minyak, gas bumi, dan hasil hutan menjadi aset berharga. Namun, tantangan seperti tingginya biaya hidup, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan, dan layanan kesehatan yang belum merata masih menghantui. Di sisi lain, New Delhi, ibu kota India, menawarkan contoh...
Comments
Post a Comment