Dari New Delhi ke Aceh: Blueprint untuk Kemajuan

Image
“Masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.” — Mahatma Gandhi Dalam bahasa Aceh, pepatah yang sejalan berbunyi, “Han bek lagee ka kheun meutuwah, bek tapeusijeut sabee na udep.” Artinya, jangan hanya mengandalkan kemuliaan masa lalu, tetapi teruslah bekerja keras demi masa depan yang lebih baik. Aceh, provinsi di ujung barat Indonesia dengan kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa, memiliki potensi besar untuk berkembang lebih pesat. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,3 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 57.956 km², Aceh memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan posisi strategis. Sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan menjadi tulang punggung perekonomian, sementara sumber daya alam seperti minyak, gas bumi, dan hasil hutan menjadi aset berharga. Namun, tantangan seperti tingginya biaya hidup, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan, dan layanan kesehatan yang belum merata masih menghantui. Di sisi lain, New Delhi, ibu kota India, menawarkan contoh...

Hati-hati Pungutan Liar atas Parkir di Objek Wisata Hutan Manggrove Kuala Langsa


Langsa, 11 Juni 2019 - Sejumlah warga yang hendak mengunjungi lokasi wisata hutan Manggrove Kuala Langsa pasca Hari Raya Idul Fitri 1440 H mengeluh dengan tarif parkir yang diberlakukan sebesar Rp 5000,- bagi pengendara sepeda motor yang memarkirkan kenderaannnya di lokasi itu.


Harga tersebut dinilai pengunjung tidak wajar dan jauh dari harga seperti yang telah ditetapkan Pemko Langsa. Warga meyakini bahwa penetapan tarif parkir tersebut tidak resmi, namun diharapkan agar pihak pengelola dan instansi terkait agar turun tangan untuk mengatasi hal itu. 




Salah seorang warga Aceh Timur Muhammad yang berkunjung ke hutan manggrove beberapa waktu lalu mengatakan, penetapan tarif parkir yang mahal terhadap pengunjung itu dapat dapat meninggalkan kesan negatif bagi Pemerintah Kota Langsa. Karena walaupun itu dianggap ulah oknum, namun terkesan sangat mencekik leher para pengunjung yang ingin menikmati suasa di seputaran Kuala Langsa. "Kita berharap pihak pengelola dan pemerintah setempat dapat menormalkan kembali harga parkir kalau dan harus bersahabatlah. Tidak wajar tarifnya sampai segitu karena tamannya bukan milik swasta, tetapi milik pemerintah yang dibangun menggunakan APBK, jadi harus dikontrol dan ditertibkanlah," saran Muhammad.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Langsa melalui akun instagram resminya "usman_abdullah69" memberikan pernyataan agar masyarakat jangan takut melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwenang di sekitar objek wisata tersebut, dan menghimbau agar membayar sesuai dengan tarif atau nominal yang tertera di tiket / karcis parkir. Walikota Langsa berjanji akan menindaklanjuti hal ini untuk kemajuan wisata kota Langsa.


Sumber modusaceh

Comments

Popular posts from this blog

Bersiaplah Para Wajib Pajak, Tahun Depan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Akan Memasuki Era Otomatisasi

Dari New Delhi ke Aceh: Blueprint untuk Kemajuan

QRIS Jadi Andalan Digitalisasi Indonesia, Tapi Mengapa Dipermasalahkan Amerika?